IKATAN KELUARGA KATOLIK SUMATERA UTARA

Beranda » Artikel Lepas » GEREJA DAN BUDAYA MODERN: Pewartaan Sabda Dalam Dunia Digital

GEREJA DAN BUDAYA MODERN: Pewartaan Sabda Dalam Dunia Digital

Oleh:

Ratadiajo Manullang

            Penemuan paling canggih pada akhir abad XX di bidang media komunikasi adalah internet. Internet merupakan sebuah system yang memungkinkan berbagai jaringan saling berhubungan satu satu sama lain, sehingga sesorang yang sedang berada dalam salah satu jaringan itu dapat berkomunikasi dengan orang yang tengah di jaringan lain. Media komunikasi ini (internet), memiliki karakter global dan tanpa batas; tidak terikat dengan batas wilayah dan negara.[1]

            Internet tidak hanya menciptakan sebuah pola pikir. Ia juga menawarkan sebuah “dunia” yang memungkinkan manusia modern bergulat denga ajakannya yang sangat magis. Sebegitu masifnya perkembangan komunikasi internet ini membuat tatanan hidup manusia turut digerakkan karenanya. Dunia kian menjadi sebuah kampong global. Apa yang terjadi di dunia lain, bisa di saksikan di benua lain dalam hitungan menit. Fenomena ini layaknya monster yang dengan kekuatannya mampu menyedot perhatian manusia-manusia rasional zaman ini. Kehadirannya membuat manusia larut dan terpesona oleh kecanggihan dan cara kerjanya yang multidinamis.

            Entah disadari atau tidak kehadiran multimedia ini kian merasuki dalam tembok biara. Gaya pewartaan yang semula menekankan segi narasi, tatap muka dan sebagainya , kini para imam, biarawan dan biarawati harus berjibaku dengan gaya pewartaan melalui internet, melalui dunia maya. Pertanyaan yang muncul adalah bagaimana sikap kita menghadapi situasi seperti ini? Haruskah kita mencoba hal-hal yang baru dengan perkembangan zaman ini? Masihkah gaya pewartaan dengan bercerita, tatap muka bisa membangun iman umat?. Pertanyaan ini tidaklah mudah untuk di jawab.

Sejarah Mengenai Komunikasi

Manusia berkomunikasi untuk membagi pengetahuan dan pengalaman. Bentuk

umum komunikasi manusia ternmauk bahasa sinyal, bicara, tulisan, gerakan, dan penyiaran. Komunikasi dapat berupa interaktif, transaktif, bertujuan, atau tak bertujuan.  Melalui komunikasi, sikap dan perasaan seseorang atau sekelompok orang dapat dipahami oleh pihak lain. Akan tetapi, komunikasi hanya akan efektif apabila pesan yang disampaikan dapat ditafsirkan sama oleh penerima pesan tersebut.

Walaupun komunikasi sudah dipelajari sejak lama dan termasuk “barang antik”,

topik ini menjadi penting khususnya pada abad 20 karena pertumbuhan komunikasi digambarkan sebagai “penemuan yang revolusioner”, hal ini dikarenakan peningkatan teknologi komunikasi yang pesat seperti radio, televisi, telepon, satelit dan jaringan komputer seiring dengan industrialisasi bidang usaha yang besar dan politik yang mendunia. Komunikasi dalam tingkat akademi mungkin telah memiliki dapartemen sendiri dimana komunikasi dibagi-bagi menjadi komunikasi masa, komunikasi bagi pembawa acara, humas dan lainnya, namun subyeknya tetap. Pekerjaan dalam komunikasi mencerminkan keberagaman komunikasi itu sendiri. Mencari teori komunikasi yang terbaik pun tidak akan berguna karena komunikasi adalah kegiatan yang lebih dari satu aktivitas. Masing-masing teori dipadang dari proses dan sudut pandang yang berbeda dimana secara terpisah mereka mengacu dari sudut pandang mereka sendiri.

Selayang Pandang Teknologi Informasi dan Komunikasi.

Pada awal sejarah, manusia bertukar pikiran melalui bahasa. Maka kalau di pikirkan pada saat itu bahasa dapat di katakan “Teknologi”. Bahasa memungkinkan seseorang memahami informasi yang disampaikan oleh orang lain. Tetapi bahasa yang disampaikan dari mulut ke mulut hanya bertahan sebentar saja, yaitu hanya pada saat si pengirim informasi yang disampaikan oleh orang lain. Tetapi bahasa yang disampaiakan dari mulut ke mulut hanya bertahan sebentar saja. Karena dengan menggunakan bahasa saja, dalam hal ini hanya dengan berkata-kata, isi informasi itu hanya disampaikan begitu saja dan pasti tidak akan tersimpan dengan lama di dalam pikiran manusia. Selain itu juga jangkauan dari suara itu sendiri terbatas. Untuk jarak tertentu, meskipun masih terdengar, informasi yang disampaikan lewat bahasa suara akan terdegradasi bahkan hilang sama sekali.

Setelah itu teknologi penyampaian informasi berkembang melalui gambar. Dengan gambar jangkauan informasi bisa lebih jauh. Karena gambar ini bisa dibawa dan disampaikan kepada orang lain. Selain itu informasi yang ada akan bertahan lebih lama. Contohnya sampai sekarang ini beberapa gambar penginggalan zaman purba masih ada sampai sekarang. Mungkin kita yang ada di zaman ini dapat mengerti mengenai gambar dan lukisan-lukisan yang dibuat oleh orang-orang pada zaman dahulu, untuk menyampaikan informasi kepada orang lain.

Kemudian dengan ditemukannya “alfabet”[2] dan angka “arabik”[3] memudahkan cara penyampainan informasi yang lebih efissien dari cara yang sebelumnya. Suatu gamabr yang mewakili suatu peristiwa dibuat dengan kombinsasi alfabet, atau dengan penulisan angka, seperti MCMXLIII diganti dengan 1943. teknologi dengan alfabet ini memudahkan dalam penulisan informasi.

Kemudian, teknololgi percetaklan memungkinkan pengiriman informasi lebih cepat lagi. Namun sekarang muncul teknologi elektronik, seperti radio, TV, komputer mengakibatkan informasi menjadi lebih cepat tersebar di area yang lebih luas dan lebih lama tersimpan.

 

Umat Katolik Memandang Komunikasi

Perkembangan dunia sangat cepat, terutama dalam bidang media. Hampir setiap hari kita temukan perubahan dan penemuan dalam media cetak, elektronik dan telekomunikasi. Banyak pengaruh yang ditumbuhkan oleh perubahan dan perkembangan media ini, baik dampak negatif maupun positif yang telah dirasakan dalam hidup masyarakat modern. Namun semua itu perlu diterangkan bahwa pengetahuan manusia berkembang sangat cepat sehingga sesuatu yang ada di luar jangkauan manusia menjadi mungkin dengan dikembangkan alat-alat mutakhir. Perkembangan ilmu pengetahuan membuka peluang bagi manusia untuk terus dituntut untuk tidak akan puas mengenai suatu penyelidikan atau penelitian. Maka sekarang ini semakin banyak alat-alat teknologi menjadi awal kebudayaan modernisasi saat ini.

Salah satu perkembangan media yang membuat kemudahan dan keuntungan manusia, misalanya penggunaan media telekomunikasi yang kita sebut HP (handphone). Hampir setiap orang mempunyai media ini dengan berbagai merek. Media ini memuat manusia dapat dengan mudah berkomunikasi kapan saja, ke mana saja, dan kepada siapa saja yang banyak mengandung resiko dan konsekuensi . dengan harga yang terjangkau dan pilihan yang banyak setiap orang bisa saja menggantinya kapan saja. Sayangnya kita hanya bisa mengonsumsinya saja dan menjadi sasaran empuk bagi para kapitalis media ini atau orang-orang kaya. Namun sekali lagi media ini membuat perubahan besar bagi manusia baik terhadap gaya maupun cara hidup. Orang modern sekarang ini selalu didampingi oleh media ini. Hari-hari tanpa HP rasanya dunia ini sepi. Sehingga bisa dikatakan hidup kedua dari manusia ditentukan dan tergantung dari HP. Semua segi dijembatani dan dimotori oleh media HP sebagai akses pelayanan kepada dunia. Apabila kita membiarkan pengaruh media HP terus masuk dan menguasai hidup kita, maka akan menumbuhkan suatu persoalan yang besar bagi segmen hidup manusia, dalam hal ini kehidupan sehari-hari manusia.

Selain itu juga yang lebih berkembang dan berpengaruh dalam kehidupan masyarakat adalah internet. Awalnya yang menggunakan internet adalah militer AS. Dalam 20 tahun terakhir, internet sudah mengalami banyak perkembangan. Sejak mulai ditemukan, internet mengalami perkembangan yang sangat cepat. Saat ini lebih dari 1,3 milyar orang di seluruh dunia menggunakan jaringan internet. Pada prinsipnya sekarang internet berfungsi sama seperti 20 tahun yang lalu. Tetapi ada perbedaan yang sangat jelas. Sekarang di internet ada elemen-elemen yang multimedial. Yaitu musik, foto, berbagai grafik, video dan permainan. Semua itu, 20 tahun yang lalu belum bisa dibayangkan. Tahun 1993 internet dibebaskan dari biaya apapun. Dengan demikian, internet ketika itu dihadiahkan kepada masyarakat umum. Tetapi nampaknya itulah kunci keberhasilannya. Jika peneliti itu meminta biaya penggunaan yang tinggi, kemungkinan besar internet tidak akan sepopuler seperti saat ini

Kita sebagai orang-orang yang hidup di dunia modern ini, untuk menghadapi pekembangan media yang begitu cepat dan begitu canggih, perlu sekali penguasaan iptek dalam media dan informatika. Apabila kita dapat menguasainya dengan baik, maka alat media ini membantu kita dalam karya dan tugas kerasulan di bidang pewartaan. Dengan kata lain, kerasulan media saat ini menjadi wahana yang paling canggih dalam membantu Gereja membawa keselamatan kepada manusia.

Berbagai macam media seperti pers, film, radio, televisi, komputer, dan alat-alat lain sejenisnya merupakan penemuan teknolgi yang menakjubkan dewasa ini. Multi media itu memberikan dan mengomunikasikan tanpa batas berita, gagasan, informasi dengan kecepatan yang luar biasa dalam kehidupan manusia. Maka karya kerasulan komunikasi sosial dalam Gereja sangat dibutuhkan bagi perkembangan Gereja di zaman ini. Gereja handaknya akrab dengan budaya informatika seperti faksimile, internet, sms, chatting, yang tumbuh dan berkembang di masyarakat luas. Namun Gereja juga bisa membentengi diri dan menyaring media canggih ini. Sebab sisi keuntugannnya adalah membantu Gereja, tapi sisi kerugiannya membuat moral, etika, estetika dalam kehidupan terancam hancur. Gereja mengelurakan dokumen mengenai kerasulan di bidang komunikasi sosial: Derkrit Konsili Vatikan II “Inter Mirifica (4 Desember 1963) yang menetapkan landsasan-landasan ideal dan hukumnya. Dokumen ini bisa menjadi landasan pemikiran dalam mengatur penggunaan media yang canggih. Masalahnya apakah dokumen itu dapat dimengerti di dalam umat dalam Gereja.

Maka kita sebagai umat beriman hendaknya dengan kehadiran media perlu mengunakannya dengan arif dan bijaksana. “Adalah tugas para gembala kudus untuk mengajar dan membimbing umat sekalian, hingga berkat bantuan alat-alat ini, mereka memperoleh keselamatan dan kesempurnaan dirinya dan sekalian umat manusia. Selain itu, adalah tugas para awam untuk mengilhami alat-alat ini dengan sangat manusiawi dan semangat kristen, sehingga seluruhnya dapat terjadi dengan harapan yang tinggi terhadap masyarakat”.[4] Perkembangan media komunikasi yang begitu cepat dan hebat itu perlu difilter atau disaring dengan berbagai cara berupa himbauan, masukan ataupun, peraturan tertulis.

Tujuan utama dari alat-alat komunikasi sosial itu sebaiknya membawa manusia pada komunikasi yang utuh dan bebas yang meyuarakan kedamaian dan keadilan sehingga membentuk manusia yang mempunyai kemauan baik dan cinta kasih yang nampak dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain alat media komunikasi tidak meyebabkan dekomunikasi melainkan komunikasi. Maka pencarian kebenaran bagi orang lain dapat dikomunikasikan dan ditransformsikan lewat media yang diciptakan oleh manusia dengan kreatif sebagai penemuan yang inovatif untuk membawa manusia kepada kemanuasiaan yang dicitrakan oleh Allah. Maka marilah kita mencontoh komuniokator utama yaitu Yesus Kristus yang memberikan keselamatan bagi manusia.

Peran Media Komunikasi dalam Pewartaan

Media komunikasi ternyata juga memainkan peranan penting dalam karya pewartaan. Media komunikasi dapat digunakan untuk mewartakan ajaran-ajaran Kristus, agar ajaran-ajaran Kristus tersebut dapat dikenal dan diterima seutuhnya oleh seluruh manusia di dunia. Dan akhirnya ajaran-ajaran Kristus itu tidak hanya membawa keselamatan bagi umat beriman kristiani saja, melainkan juga kemajuan bagi seluruh manusia di dunia (Bdk. Inter Mirifica art. 2). Hal ini dapat kita lihat antara lain banyaknya muncul majalah, program-program televisi dan situs-situs di internet yang bersifat kerohanian yang dapat kita akses dengan mudah.

Selanjutnya, media komunikasi dapat juga dipakai untuk menebarkan keutamaan teologal: iman, harapan dan kasih kepada umat beriman kristiani, agar supaya iman, harapan dan kasih mereka terus bertumbuh dan berkembang sesuai dengan yang dikehendaki-Nya. Selain itu juga, media komunikasi dapat dimanfaatkan untuk mempererat tali persaudaraan, menggalang solidaritas, menyuarakan keadilan dan perdamaian dunia.

Media komunikasi juga memiliki peran dan jasa besar bagi umat manusia, untuk menyegarkan hati, mengembangkan budi dan untuk menyiarkan serta memantapkan Kerajaan Allah (Inter Merifica art. 2). Semua peran media komunikasi akan terwujud, jika media komunikasi digunakan secara tepat. Dengan melihat peran media seperti ini, kita dapat mengatakan bahwa media komunikasi menjadi sarana untuk mewartakan Injil Kerajaan Allah. Isi Injil Kerajaan Allah adalah Kristus yang mewartakan kedatangan Kerajaan Allah (Lumen Gentium art. 5) sekaligus yang juga tanda Kerajaan Allah, karena dalam diri Yesus mulailah Kerajaan Allah itu (Dei Verbum art. 17).

Bapa Suci Paus Benediktus XVI mengangkat tema “Imam dan Pelayanan Pastoral dalam Dunia Digital: Media Baru Dalam Pewartaan Sabda Tuhan” untuk Hari Komunikasi Dunia pada bulan Mei 2010. [5] Tema Hari Komunikasi tahun ini dikaitkan dengan tema Tahun Imam. Paus sangat menyadari pentingnya komunikasi digital dalam mewartakan Sabda Allah. Dan Gereja sebagai tanda dan sarana komunikasi Allah dengan manusia seharusnya dapat menggunakan sarana digital untuk menciptakan “manusia baru”. Surat Paus terkait Hari Komunikasi Sedunia itu secara spesifik ia tujukan kepada para imam, yang berperan penting dalam mewartakan Tuhan kepada umatnya.

“Imam diharapkan dapat hadir di dalam dunia komunikasi digital dalam memberikan kesaksian terhadap Sabda Tuhan, mempraktikkan peran utama mereka sebagai pemimpin komunitas yang mampu mengekspresikan diri mereka dengan suara-suara yang berbeda yang diberikan oleh pasar digital. Imam ditantang untuk mewartakan Sabda Tuhan dengan melayani genarasi masa kini yang dekat dengan sumber-sumber audiovisual (photo, video, gambar animasi, blog, website), di samping cara-cara tradisional, ini dapat membuat pandangan luar kita untuk berdialog, berevangelisasi dan berkatekese.”

Imam adalah man of God, dan man for others  yang menghadirkan Allah termasuk lewat teknologi digital, sehingga Allah sungguh dirasa hadir sekarang ini, demikian  imam juga menghadirkan kebajikan religius dari masa lampau yang dapat menginspirasikan usaha-usaha untuk hidup bermartabat dengan membangun suatu masa depan yang lebih baik.

Bagaimana para imam menggapi seruan Paus? Bagaimana para imam telah ikut ambil bagian dalam pewartaan Sabda Tuhan melalui komunikasi digital, khususnya internet?

            Gereja berada di tengah dunia memiliki tugas utama yaitu memberikan kesaksian tentang imannya. Gereja berusaha semaksimal mungkin agar iman dapat berkembang di mana-mana dan jumlah pengikut Yesus semakin bertambah. Sebab itu dalam suatu proses yang cukup lama Gereja berusaha menggunakan bantuan sarana ketika perwartaan itu harus menjalankan tugasnya di tengah keterbatasan para pewarta.[6]

            Mulai dari zaman para rasul sarana-sarana pewartaan iman mulai digunakan, misalnya menggunakan surat-surat. Hal ini dilakukan karena pewarta tidak bisa terlibat langsung dalam mewartakan Injil Tuhan maka sarana tadi sangat membantu dalam proses mewartakan iman. Sarana-sarana tersebut mengalami perkembangan seiring dengan semakin luasnya tempat pewartaan serta bertambahnya jumlah jemaat. Untuk itu diperlukan sebuah alat atau sarana yang lebih maju seperti yang kita lihat sekarang ini. Penemuan media komunikasi yang canggih  seperti digital atau audio visual membuat pewartaan semakin mudah dan jangkauannya luas.[7]

            Dunia maya[8] sangat membantu dalam mewartakan iman meskipun tidak semua umat setuju dengan hal ini karena keyakinan bahwa Tuhan tidak hadir di dunia internet. Sebagai sarana yang baru dan canggih, internet menjadi semacam perpanjangan tangan bagi para pewarta masa kini.

  1. a.      Pewartaan lewat internet

Dalam dokumen Church and Internet kita dapat menemukan pesan Paus Benediktus XVI mengenai peran penting internet sebagai sarana komunikasi baru: “Media komunikasi digital merupakan suatu bidang pastoral yang peka dan penting dalam menunaikan tugas penggembalaan demi dan untuk Sabda”.[9] Bukan tanpa alasan Paus kita ini menyampaikan pesan ini. beliau ingin agar Gereja juga menggunakan sarana dunia ini demi kemudahan dalam bidang pewartaan iman.

Selain itu dengan adanya internet diharapkan pewartaan dapat menjadi lebih lengkap dari pada pewartaan tradisional. Dengan demikian segala sesuatu yang belum jelas sebelumnya semakin diperjelasan dan lebih mendalam. Melalui pewartaan internet topik-topik pembicaraan juga semakin luas dan dapat menjadi bahan seharing iman. Untuk itu topik-topik yang dimuat di dalamnya harus memilki bobot yang dapat membuat iman bertumbuh dan berkembang.

Selain itu hal yang perlu diperhatikan ialah pentingnya bagi para pewarta untuk sungguh-sungguh belajar dengan baik bagaimana memanfaatkan internet dengan tepat. Karena sebagai sarana pewartaan iman, internet juga harus mempunyai cara-cara bagaimana membuat suatu pewartaan menjadi menarik. Sebagi contoh dengan menampilkan gambar-gambar kudus dan keteladanan mereka, renungan-renungan singkat, atau forum diskusi yang menampilkan pengalaman iman seperti dogma-dogma, ajaran-ajaran Gereja, pendalaman Kitab Suci dan sebagainya. Gereja melihat peluang-peluang yang disediakan internet untuk pewartaan atau kerya evangelisasi. Dalam dokumen Ethics in Internet art.3 dikatakan bahwa:

“Internet dapat membantu masyarakat mewujudkan tanggung jawab mereka atas kebebasan dan demokrasi, memperluas ruang lingkup pilihan yang tersedia dalam arena kehidupan berbeda, mengedepankan kemajuan manusia dalam segala aspek, mendorong kesejahteraan, perdamaian, pertumbuhan intelektual dan kebudayaan. Sikap saling pengertian antar masyarakat dan bangsa serta mendorong dialog antar agama yang kelak menjadi sarana perwujudan “peradaban cinta kasih”.[10]

Oleh sebab itu Gereja tetap melihat nilai positif penggunaan internet sebagai sarana pewartaan, pendalaman Kitab Suci, pendidikan iman umat, pembimbingan rohani, pengembangan hidup sosial dan kesejahteraan masyarakat.

  1. b.       Pewartaan Lewat Cerita

Cerita-cerita yang ditampilkan lewat video membuat orang dapat mengetahui dan mengingat kembali teladan-teladan para kudus, misalnya film santo-santa, film para nabi, film Tuhan Yesus menurut keempat Injil atau film tentang kehidupan para rahib. Certa-cerita di dalam film ini menyuguhkan nilai-nilai iman dan teladan kehidupan yang sangat berdampak bagi perkembangan iman, serta membantu pewartaan iman.

            Melalui cerita film-film ini suatu peristiwa iman atau nilai-nilai kebaikan dan cinta kasih dari para kudus tidak hanya sekadar cerita historis tetapi cerita yang sungguh-sungguh dapat mengantar orang ke dalam kehidupan rohani.  Dengan film-film ini pewartaan iman, nilai-nilai spiritualitas, atau makna doa dapat merangsang kesadaran rohani bagi umat yang menontonnya. Selain itu merangsang penemuan gagasan baru  dan menemukan dimensi iman kristen yang tersembunyi di balik cerita lewat film-film tersebut.[11]

Hal ini mendorong meningkatnya produksi-produksi film-film rohani atau yang bersifat keagamaan. Dengan memperlajari suatu hal-hal peristiwa-peristiwa iman di suatu tempat, suatu kehidupan, khotbah-khotbah yang kemuadian direkam dan dilihat kembali, lalu diedit ulang sehingga berguna sebagai sarana pewartaan.

  1. c.       Pewartaan melalui gambar

Selain melalui internet dan film-film suatu pewartaa atau katekese juga dapat dengan menggunakan gambar-gambar seperti gambar-gambar kudus. Gambar-gambar ini bisa disajikan lewat layar LCD yang kemudian dari gambar ini seorang pewarta dapat membawa umat untuk berefleksi dari gambar-gambar tersebut atau dengan menanyakan kesan mereka setelah melihat gambar-gambar tersebut. Melalui refleksi ini umat bisa diajak untuk merenungkan sosok orang kudus tersebut atau mengenangkan atau menghadirkan kembali sosok orang kudus itu ke dalam kehidupan sekarang ini.

Kemudian dari hasil refleksi atau dengan menghadirkan kembali sosok orang kudus tersebut, umat diajak untuk berdevosi serta berusaha mengamalkan teladan dari orang kudus tersebut. Dengan demikian pemanfaatan sarana-sarana canggih ini sungguh-sungguh dapat membantu pewartaan dijaman teknologi seperti sekarang ini.

Metode pewartaan

Setelah kita mengetahui fondasi spiritual dan intelektual, maka kita dapat mulai memikirkan tentang metode yang dapat kita lakukan. Dari sikap Gereja Katolik tentang media yang telah dipaparkan di atas, serta meneladani semangat Rasul Paulus yang menggunakan segala cara agar dapat memperkenalkan Kristus kepada segala bangsa, kita harus melihat kesempatan dan keadaan di mana Tuhan menempatkan kita sebagai peluang. Sebab penggunaan media komunikasi dapat menghubungkan orang- orang di dalam keluarga, sekolah, pergaulan, pekerjaan, dan kehidupan sehari- hari lainnya, dan ini merupakan kesempatan yang baik untuk menaburkan benih Injil. Hal tersebut dapat kita lakukan melalui beberapa cara: Telpon, BBM, SMS, E-mail dan Milis: Hal yang paling sederhana yang dapat dilakukan oleh hampir semua orang adalah menelpon teman yang membutuhkan penghiburan, mengirim e-mail, SMS atau BBM ayat- ayat maupun permenungan Kitab Suci. Dalam kategori ini, kita dapat juga membuat milis. Sebagai contoh dalam kelas katekumen, baik juga jika kita sebagai katekis dapat meminta alamat e-mail para katekumen, sehingga tiap- tiap hari/ secara berkala katekis dapat mengirimkan ayat- ayat Kitab Suci atau renungan harian, ataupun penjelasan tentang pokok-pokok iman Katolik. Di samping itu pewartaan juga bisa disampaikan lewat aneka media komunikasi lainnya, diantaranya:

Facebook, Twitter: Mulai membuat facebook atau twitter dan menceritakan bagaimana Kristus hidup dalam kejadian sehari-hari, serta bagaimana merefleksikan bacaan Kitab Suci dalam kehidupan sehari-hari. Lihat contoh twitter dari Vatikan.[12]

 Website atau Blog: Dewasa ini, membuat website atau blog pribadi, entah dengan Blogger, WordPress, Joomla, dll sangatlah mudah dan tidak memerlukan biaya banyak. Semua umat Katolik dapat mulai dengan menceritakan pengalaman- pengalaman iman, sehubungan dengan apa yang dialaminya sehari-hari. Dan bagi yang mempunyai pengetahuan yang lebih di bidang iman – baik awam maupun klerus – dapat mulai untuk memaparkan iman Katolik secara lebih mendalam. Silakan melihat website Vatikan.[13]

Forum: Membuat forum Katolik juga menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan Kristus dan Gereja-Nya. Di satu sisi, forum dapat memberikan daya tarik bagi pengunjung untuk memberikan opini dan membangun dialog. Namun, di sisi yang lain, tanpa moderator forum yang baik, maka diskusi dapat menjadi liar dan tidak terarah.

Youtube: Salah satu media komunikasi adalah film. Dan dalam era internet ini, kita semua dapat menampilkan video melalui youtube. Isilah dengan kesaksian iman, pendalaman iman, kegiatan anak-anak muda dalam paroki maupun dalam tingkat keuskupan. Lebih jauh media ini juga dapat dimanfaatkan untuk merekam tahap-tahap dalam melakukan katekese, baik secara terstruktur atau per topik bahasan. Vatikan sendiri mempunyai channel youtube.[14] Applikasi Mobile: Dewasa ini telepon pintar (smartphone), seperti iphone, blackberry, telepon dengan OS Android telah merajalela di Indonesia. Oleh karena itu perlu dipikirkan untuk membuat applikasi mobile, sehingga umat Katolik dapat mengakses informasi tentang iman Katolik di mana saja, termasuk pada waktu menghadapi kemacetan.

Dampak Positif Media Komunikasi: sebagai sarana pewartaan nilai-nilai iman

Melalui media komunikasi setiap hari diberitakan, ditanamkan, dan dibatinkan kepentingan-kepentingan dan ideologi dari seseorang atau sekelompok orang kepada siapa saja yang menerimanya.[15]  Bagimanakah sikap orang kristiani dalam hal penggunaan media komunikasi ini? Dalam ensiklik Evangelii Nuntiandi dikatakan, “amanat terakhir yesus menurut injil Markus mengenakan pada pewartaan injil oleh Tuhan dipercayakan kepada para rasulnya sifat universal tanpa batas: Pergilah ke seluruh dunia; wartakanlah kabar gembira kepada segala makhluk” (Mrk 16:15).”[16]

“Pewartaan itu tugas dan panggilan setiap orang yang percaya kepada kristus. Secara khusus tugas ini dipercayakan kepada mereka yang termasuk golongan imam atau biarawan-biarawati yang dengan status hidup mereka mau memberi kesaksian tentang kebenaran injil. Lebih khusus lagi harsu disebut “barisan para katekis, baik pria maupun wanita, yang dijiwai semangat merasul dan dengan banyak jerih payah memberi bantuan istimewa yang sungguh perlu demi penyebarluasan iman gereja” (AG 17).”[17]

“Dalam pewartaan dewasa ini alat-alat komunikasi mempunyai tempat yang istimewa. Alat-alat komunikasi oleh Konsili vatikan II diakui sebagai penemuan teknologi modern, yang dianjurkan sebagai alat-alat yang digunakan untuk pewartaan yang efektif dalam aneka macam kerasulan. Maka, gereja hendaknya tidak menjadi asing terhadap dunia komunikasi ini, melainkan mengambik manfaat perkembangan teknik demi pewartaan injil dan kesaksian iman.”[18]

Dalam Ensiklik Evangelii Nuntiandi dikatakan, “abad kita ditandai media massa atau upaya-upaya komunikasi sosial. Seperti telah kami tekankan, pewartaan pertama, katakese atau pendalaman iman selanjutnya tidak dapat berlangsung tanpa upaya-upaya itu. Bila diabdikan kepada injil, upaya-upaya komunikasi itu mampu memperluas hampir tak terbatas wilayah sabda Allah didengar. Media itu memungkinkan warta gembira menjangkau jutaan orang. Gereja akan merasa bersalah di hadapan Tuhan , andaikata tidak memakai sarana-sarana yang besar sekali dampaknya itu, yang berkat keahlian manusia dari hari ke hari semakin canggih. Melalui upaya-upaya itulah gereja mewartakan “dari atap rumah-rumah” (Bdk.Mat10:27;luk 12:3) amanat yang dipercayakan kepadanya. Bagi gereja media massa merupakan versi mimbar yang modern dan efektif. Berkat media itu gereja berhasil menyapa banyak orang.”[19]

Dalam tulisannya, Mgr. A.M. Sutrisnaatmaka, MSF menjelaskan, “sebagai orang beriman katolik, hasil refleksi teologis atas iman berdasarkan Kitab suci  dan diadakan dalam kerangka hidup gereja universal maupun lokal partikular, perlulah disebarluaskan melaui alat-alat komunikasi sosial, mulai dari yang paling sederhana sampai yang paling canggih. Menurutnya, ada dua pokok yang bisa disampaikan Gereja sebagai tujuan yang mau dicapai dengan semua jenis media komunikasi sosial yaitu: pertama, untuk pendidikan berbasis iman kristen dan kedua, untuk karya demi keselamatan manusia.”[20]

Salah satu ciri kedewasaan (iman) yang ditempa melaui pendidikan adalah memberdayakan hati nurani untuk memilih yang baik untuk semua pihak.[21] Maka sewajarnyalah kalau media komunikasi sosial secara positif dapat membangun suara hati yang lebih jernih berdasar informasi yang yang disampaikan secara akurat dan seimbang[22], terutama untuk perkembangan iman.

Berkaitan dengan pokok kedua, karya keselamatan manusia, gereja memandang hal ini mutlak perlu.[23] Perekemnagan dalam bidng teknologi apapun kiranya harus diarahkan kepada peningkatan harkat manusia, yang pada akhirnya membawa kepada keselamatannya.[24]  Keselamatan mencakup pelbagai seginya,seperti dirangkum dalam kata “syalom”. Damai sejahtera, kebahagiaan lahir batin, kegembiraan yang mendalam dan semua hal yang terkait dengn keadaan ini menjadi ungkapan keselamatan, tak hanya di dunia sekarang ini, tetapi juga dalam keabadian.[25]

Dampak Negatif Media Komunikasi

Perkembangan teknologi khususnya internet dewasa ini semakin luar biasa. Alat komunikasi jarak jauh ini sudah berkembang menjadi telepon genggam dengan berbagai layanan, seperti sms, kamera, video recorder, TV, internet, dan bahkan bisa saling melihat lawan bicara. Dibalik itu perlu diperhatikan perkembangan teknologi juga perlu diwaspadai karena dapat memunculkan dampak negatif bagi kehidupan manusia. Beberapa penelitian menemukan dampak negatif dari beberapa alat-alat elektronik bagi kesehatan manusia. Beberapa alat ada yang meyebabkan gangguan pada otak, mata ataupun pendengaran manusia. Yang perlu diwaspadai juga adalah dampak psikologis, khususnya pada relasi antar manusai. Bisa jadi, gara-gara televisi, antaranggota keluarga bertengkar atau berselisih kaena masing-masing memiliki tayangan favorit, sementara tidak ada yang mau mengalah. Gara-gara televisi pula keluarga menjadi terpecah karena masing-masing memili TV sendiri-sendiri. Ada anggota keluarga yang memilih keluar rumah dan bergabung dengan orang lain yang memiliki tayangan favorit sama. Akhiranya relasi antar anggota keluarga menjadi renggang. Televisi membuat jarak yang memisahkan mereka.

Berdasarkan kasus tersebut dapat dipelajarai bahwa tenologi dapat sangat bermanfaat dan berdampak positif ketika manusia menggunakan teknologi secara tepat sesuai dengan fungsinya. Manusia juga perlu menyadari kondisi dirinya, jangan sampai teknolgi berdampak negatif karena seseorang memiliki potensi, kecenderungan atau sikap yang negatif di dalam dirinya. Manusia perlu waspada agar jangan sampai dimanfaatkan oleh teknolgi, sebaliknya manusialah yang harus memanfaatkan teknologi. Jangan sampai dalam proses pewartaan Injil Kerajaan Allah terganggu bahkan terpengaruh oleh teknologi.

 

 

 

 

 

 

 

PENUTUP

1. Kesimpulan

Di era globalisasi yang penuh dengan sekularisasi ini, teknologi merupakan sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat. Apalagi dengan adanya teknologi internet. Internet merupakan tekonologi komunikasi yang sangat membantu kehidupan masyarakat. Memang masih ada alat-alat komunikasi lainnya yang penting bagi kehidupan masyarakat, seperti HP (handphone). Dengan adanya alat-alat komunikasi ini, Gereja lebih diuntungkan lagi karena dapat membantu proses pewartaan sabda Allah.

Maka dari itu tidak salah kalau kita memuji pemikiran para bapa konsili, yang telah berupaya berpikir jauh ke depan bahwa bagaimana gereja menghadapi zaman modern. Pemikiran-pemikiran yang mereka tuangkan dalam salah satu dekrit yaitu dekrit tentang Upaya-Upaya Komunikasi Gereja (Inter Mirifica), yang sangat membatu dan memberi sumbangsih yang besar bagi perkembangan Gereja zaman ini. Oleh karena itu dengan adanya dekrit ini Gereja dapat semakin berkembang dan pewartaannya tentang Kerajaan Allah akan semakin luas, sehingga Cinta Kasih Kristus akan sampai kepada banyak umat, dan dari itu banyak juga umat yang akan selamat.

2. Saran

Seperti apa yang dikatakan oleh Paus Benediktus XVI, yaitu semua pemimpin religius umat katolik harus belajar dan mengetahui segala bentuk tekonologi komunikasi yang ada sekarang ini. Pernyataan itulah yang mematahkan paradigma kalau pemimpin spiritual lekat dengan sifat yang kolot dalam soal teknologi. Sebab, Paus mulai memberikan semangat kepada kaum muda Katolik untuk memanfaatkan dengan benar internet. Seruan ini sengaja dilakakukan agar para anak muda Katolik berusaha keras menyampaikan pesan Gereja ke seluruh dunia, dengan memanfaatkan internet. Pasalnya menurut Paus, internet tidak bisa terlepas dari kegiatan masyarakat. Selain itu juga, internet mampu menjangkau publik lebih luas dan cepat.

Oleh karena itu, diharapkan semua umat beragama terlebih bagi umat Katolik hendaknya berupaya dan berusaha sebaik mungkin untuk menggunakan teknologi yang ada. Karena di zaman yang modern ini sangat rugi kalau tidak menggunakan kecanggihan teknologi dalam menyampaikan Kabar Sukacita Allah.

DAFTAR  PUSTAKA

 

 

Buku-buku Sumber

Fulgentio R. Tradelly, SX Merasul lewat Internet Kaun Berjubah dan Dunia Maya, Yogyakarta: Kanisius, 2009.

Hardawiryana, SJ, Kumpulan dokumen Ajaran Sosial Gerja, Evangelii Nuntiandi (Semangat Misioner dalam dunia Modern).

 

Josef Eilers, Franz, SVD, SVD, Berkomunikasi Dalam Gereja, Ende Flores: Nusa Indah, 2000.

IMAN KATOLIK, Tugas Gereja (Pewarta Sabda).

Komkat KWI, Peran Media dalam Pendidikan dan Upaya kesadaran Bermedia, Yogyakarta: Kanisius, 1997.

Mgr. Sutrisnaatmaka A. M. MSF (Ed. Y.B. Margantoro) Masyarakat Berkomunikasi (memanfaatkan sarana komunikasi untuk menyebarkan nilai iman), yayasan pustaka Nusatama:Yogyakarta, 2008.

Valentinus CP (ed.Dr. B.A.Pareira,Ocarm), Pendidikan Nilai ditengah arus Globalisasi, STFT Widya Sasana, Malang,2003.

Dr. Valentinus, CP. Kritik Ideologi, Menyibak Selubung Ideologi Kapitalis dalam Imperium Iklan; Telaah Kritis dari Perspektif Filsafat Herbert Marcuse, Yogyakarta: Kanisius, 20011.

Sumber Dari Internet

Hhtp://www.vatican.va/roman_curia/pontifical_councils/pccs/document/rc_pc_pccs_doc_20020228h diakses tgl 29 September 2012

http://24hoursworship.com/tag/memakai-internet-untuk-pewartaan/di unduh tgl 20 Oktober 2012

http://www.misacorindo.org/hatibaru/?p=784 diunduh tgl 20 Oktober 2012

https://twitter.com/news_va_en diakses tgl 25 Oktober 2012

http://vatican.va diakses tgl 25 Oktober 2012

http://www.youtube.com/user/vatican diakses tgl 25 Oktober 2012


[1]Dr. Valentinus, CP. Kritik Ideologi, Menyibak Selubung Ideologi Kapitalis dalam Imperium Iklan; Telaah Kritis dari Perspektif Filsafat Herbert Marcuse, Yogyakarta: Kanisius, 20011, hlm. 23

[2] Kata alfabet, diambil dari bahasa Yunani, dari dua huruf pertama tulisan mereka yaitu alfa dan beta. Arti kata ini adalah sebuah sistem tulisan yang berdasarakan fonem vokal dan konsonan. (http://id.wikipedia.org/wiki/Alfabet)

[3] Arabik adalah penulisan angka pada bangsa Arab. (contohnya 1,2,3,4, ….. dst).

 

 

[4] Dokumen Konsili Vatikan II, Dekrit tentang Upaya-Upaya Komunikasi Sosial “Inter Mirifica” (4 Desember 1963), bab 1,3.

 

[7]  Bdk Komkat KWI, Peran Media dalam Pendidikan dan Upaya kesadaran Bermedia, Yogyakarta: Kanisius, 1997 hlm 6.

[8] Bdk Reynaldo Fulgentio Tardelly, SX. Merasul lewat Internet Kaun Berjubah dan Dunia Maya, Yogyakarta: Kanisius, 2009 hlm 28-29.

[9] Bdk. Pesan Paus Benediktus XVI no.1.

[10] Hhtp://www.vatican.va/roman_curia/pontifical_councils/pccs/document/rc_pc_pccs_doc_20020228h diakses tgl 29 September 2012.

[11] Franz- Josef Eilers, SVD, Berkomunikasi Dalam Gereja, Ende Flores: Nusa Indah, 2000 hlm 74.

[15] Valentinus CP (ed.Dr. B.A.Pareira,Ocarm), Pendidikan nilai ditengah arus globalisasi, STFT Widya Sasana, Malang,2003, hal.111.

[16] Kumpulan dokumen Ajaran Sosial Gerja, Evangelii Nuntiandi (semangat misioner dalam dunia modern), 546, 49.

[17] Iman katolik, tugas gereja (pewarta sabda), 390,5.

[18] Ibid. 391,6.

[19] Kumpulan dokumen Ajaran sosial gerja, evangelii nuntiandi (upaya-upaya untuk mewartakan injil),  542,44.

[20] Mgr. A.M. Sutrisnaatmaka,MSF (Ed.Y.B. Margantoro), masyarakat berkomunikasi (memanfaatkan sarana komunikasi untuk menyebarkan nilai iman), yayasan pustaka snusatama:Yogyakarta, 2008, hal.22.

[21] Ibid.hal.24.

[22] Ibid. 24

[23] Ibid. 24

[24] Ibid.24

[25] Ibid.25

 

 

 

 

 

 


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: